BLANTERORBITv102

    Bagaimana dengan gelar kita ?

    Rabu, 10 Agustus 2016




       Ketika bunda memilih untuk bekerja di rumah, pastinya banyak sekali hal-hal yang dipertanyakan baik dari keluarga terdekat, bahkan dari orang tua bunda sendiri. Bagaimana tidak kecewanya mereka telah menyekolahkan bunda dengan tinggi, namun bunda memilih untuk berada di rumah. Mengabdikan seluruh jiwa dan raga kepada suami dan anak bunda. Membangun surga di rumah bunda dan menjadi guru pertama untuk anak-anak bunda.
    Tenang bunda karena bunda tidak sendiri. Banyak diluar sana yang memilih keputusan seperti bunda. Mungkin bunda disepelakan? Dianggap tidak berharga? Namun jika itu yang terbaik maka nikmatilah, syukuri dan dijalani. 

    Bagaimana dengan gelar kita?

    Ilmu yang yang telah kita tidak akan menguap dalam diri kita ini bahkan menjadi sebuah nilai tambah bunda dalam mengurus rumah tangga, dan anak bunda. Ibu saya pernah berkata bahwa ibu yang memiliki pendidikan tinggi akan menjadi modal utama dalam mengasuh anak. Oleh karena itu para bunda harus pintar dan cerdas. Ibu manamkan kepada anak-anaknya agar menuntut ilmu setinggi-tingginya “ilmu mah moal beurat mamawa” ilmu itu tidak akan berat bawanya karena dengan ilmu kita akan menujukan siapa diri kita, bahagiamana cara berpikir kita dan ini akan berpengaruh terhadap anak kita dan keluarga.
    Gelar kita ada yang Sarjana Ekonomi, Sarjana Hukum, Arsitek, Dokter, Sarjana Industri, Sarjana Pendidikan. Magisrter Manajemen hingga gelar Doktor pun. Akan sangat disayangkan jika ia tidak dapat mengelola keluarganya dan anaknya dengan baik.
                Banyak yang beranggapan profesi sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan sepele yang tidak ada istimewanya, dibanding para wanita karir yang pergi pagi pulang sore untuk bekerja di kantoran.
    Padahal menurut Islam, profesi ibu rumah tangga ibarat seorang ratu. Ia menjadi pemimpin di rumah suaminya. Hal itu merupakan pekerjaan dan karir terberat dibanding segala profesi yang ada. Balasannya pun tidak main-main, yaitu surga, sesuatu yang lebih baik dari dunia dan segala isinya.
    Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita salihah wanita yang baik dalam agamanya, rumah tangganya, serta pergaulannya.” (Riwayat Muslim)
    Sesungguhnya, pemikiran bahwa menjadi ibu rumah tangga sebuah pekerjaan rendahan, berasal dari pikiran feminis. Bagi kaum feminis, menjadi ibu rumah tangga itu merendahkan martabat perempuan, karena dianggap membebani dan melakukan perbudakan terhadap kaum Hawa.
    Pola berpikir seperti itu karena standar kesuksesan menurut mereka diukur dari unsur materi. Seseorang dikatakan sukses jika punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, meski harus buka aurat.
    Untungnya, tidak semua wanita terpengaruh oleh pemikiran tersebut. Masih banyak kaum Muslimah yang mempunyai iman yang kuat sehingga tidak terpengaruh.
    Pengalaman yang di ceritakan oleh seorang wanita berusia 28 tahun. Alya merupakan anak sulung dari 3 bersaudara, ia baru saja menyelesaiakn pendidikan Magister Manjajemenya. Tawaran untuk pekerjaan pun sungguh mengiurkan karena ia merupakan lulusan terbaik di kampusnya.
    Namun ia sudah berjanji dengan dirinya dan juga kepada  bahwa ia ingin mengurusi keluarganya terlebih dahulu. Mengabdikan diri kepada suaminya. “Banyak orang menanyakan kepada saya mengapa saya memilih untuk bekerja di rumah. Bagi saya waktu itu sangat berharga karena saya tidak mau meninggalkan moment terbaik  dengan keluarga dan teruatama anak, kemudian memang suami pun meminta saya untuk berada di rumah, dan saya tidak keberatan untuk itu.”tuturnya.
    “Ketika mengerjakan pekerjaan domestik pun saya merasa waktu belum cukup, pekerjaan yang tidak pernah selesai-selesai. Dari pagi hingga malam hari.”ungkap wanita yang memiliki hobi membaca ini.
    Ketika ditanyakan mengenai pendidikan yang ia tempuh ia menceritakan bahwa ia  memang menyukai belajar. “Menurut saya belajar itu menyenangkan, mengenai pendidikan saya bahkan ada niat untuk sekolah s3, kalo ada rejekinya insya allah saya ingin melanjutkan lagi untuk bekal anak-anak saya.”tuturnya.
    “Lihat para ibu di rumah seperti negara Jepang, mereka memiliki pendidikan tinggi yang bekerja di rumah. Dengan kecangihan jaman saat ini kita para ibu-ibu juga di tuntut untuk menjadi pintar. Jangan sampai anak kita ditanya oleh anak namun kita tidak tahu apa-apa.”ungkapnya dengan nada rendah.  
    Menurut ia yang paling penting adalah bagaimana memanfaatkan waktu meskipun di rumah bisa optimal, karena menjadi bunda yang berada di rumah memang tidak lah mudah. “meskiupun kita berada di rumah kita tetap berkarya apa saja yang kita sukai memasak, menulis, membaca agar waktunya tidak terbuang.”tutur bunda yang sedang mengandung anak pertamanya ini.
     Menangapi  tanggapan dari orang sekitar ia sudah kebal sampe pernah ditanya sama pak RT  “Mbak nggak sayang sekolah tinggi tapi hanya di rumah saja. Paling saya senyumin saja, belajar mendengar apa yang perlu dengar, karena sukses dan bahagia  itu kita yang tentukan’ tuturnya sambil tersenyum manis.
    Baginya bahagia itu ketika bisa menyaksikan suami tenang ketika berangkat kerja ”Jika suami bekerja dengan tenang insya allah semua lancar. Suami saya yang bekerja dan saya membantunya dengan doa-doa yang saya panjatkan kepada Allah.” Sambil menembuskan nafas kemudian ia melanjutkan pembicaraan. “Yang paling terpenting adalah suami tidak mematikan potensi yang di miliki oleh istri dan Alhamdulillah saya mendapatkan suami seperti itu. Mau ngapain aja asalkan postif pasti ia dukung.”ungkapnya penuh semangat.
    Menurut Alya yang paling disayangkan adalah ketika bunda memiliki potensi yang luar biasa namun tidak dapat di optimalkan. Itu yang kadang menjadi para bunda di rumah menjadi kurang produktif. “ibu-ibu sekrang lebih betah nonton sinteron berjam-jam di layar tv. Tontonlan tanyangan yang lebih menafaat, batasi waktu nonton tv, karena ini juga akan berpengaruh terhadap perekembangan anak.”ungkap mantan karyawati konsultan psikologi ini.
    Ketika dberada di rumah Alya bisa memanfaatkan waktu dengan aktifitas produktif. “Saya merasa banyak melakukan banyak hal dengan saya memilih berada di rumah. Ketika suami sudah berangkat kerja saya bisa melakukan hobi saya untuk menulis dan belajar banyak hal, saat ini saya bergabung di beberapa komunitas yang saya minati yaitu bisnis dan menulis.
                Memanfaatkan teknologi yang ada ia pun bergabung dengan bernagai komunitas via online, sehingga kita tidak perlu keluar rumah untuk belajar tetap memiliki teman yang ingin mempelajari hal yang sama. Meskipun kita di rumah ia tetap memanfaatkan waktunya. “Saya bergabung dengan komunitas bisnis dan menulis, sehingga saya tetap dapat berkembang walau pun berada di dalam rumah. Dalam komunitas tersebut kita dapat belajar banyak hal  dari para anggota lain. Kadang saya juga belajar dari Youtube” tuturnya
                Bisnis dan Menulis merupakan sebuah jiwa bagi Alya. “Mengenai bisnis ini merupakan jiwa saya dari kecil, kebetulan ayah saya punya bisnis supplier hasil ternak, dari kecil saya sering ikut bantu-bantu dalam akifitasnya bisnis. Saya melihat proses perkembangan bisnis yang  Ayah saya bangun dari muai nol, sampai saat ini usahanya sudah mencapai  25 tahun. Saya pun ingin mengikuti jejak sang ayah dalam dunia ini.’ Ungkap Alya 
                Namun karena ia harus mengikuti tugas suami yang kerjanya harus sering berpindah-pindah akhirnya  memilih untuk produktif di rumah. Sehingga saya tetap dapat mendamipingi suami dimana ia di tugaskan karena itu merupakan tuags pertama saya” Tuturnya wanita yang saat ini sedang merintis bisnis on-line di dalam rumah ini.
                Dalam menulis ia pun tetap aktif menulis menjadi seorang penulis bloger sehingga ia bisa berbagi dengan semua orang, “Saya suka bercerita, dengan segala aktifitas yang saya lakukan, resep yang telah saya masak, buku yang telah saya baca bahkan pengalamn yang menarik menurut saya,  sehingga aktifitas ini menjadi media saya untuk berbagi dengan orang-orang di luar sana, .”tuturnya sambil tersenyum manis.  
                Pengalaman lain diceritakan dalam sebuah buku berjudul Bunda Cekatan di tulis oleh tim Institute Ibu Profesional. Ummu Fauzan salah satu penulis disana menulis mengenabail “Learn How to Learn”. Dulu ia merasa minder dan malu saat orang menanyakan pekerjaan dan kegiatannya. Dengan senyum simpul ia menjawab “Saya seorang ibu rumah tangga biasa, kemudian dari mereka pun berkomentar “Percuma sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya ke dapur juga!”. Ia hanya bisa menghela nafas jenuh dan bosan menjadi ibu rumha tangga, selama 10 tahun mengerjakan hal yang sama setiap hari.
                Namun setelah bergabung dalam sebuah komunitasnya, maka para digma lama mulai terkikis. Menjadi Ibu adalah aktivitas mulia, menjadi ibu bukan hanya sekedar ibu, tetapi ibu yang benar-benar profesional. Kini jika ia ditanya menganai apa pekerjaannya, maka dengan bangga saya akan katakan saya ibu profesional. Wow profesional gitu lho. Lalu buat apa titel sarjana, kalau hanya mengurusi rumah keluarga. Hei.. jangan salah justru menjadi ibu itu harus berpendidikan tinggi. Jika semua pekerjaan harus dikerjakan oleh ahlinya, lalu keapa untuk mencetak generasi kita harus asl-asalan apa adanya?
                Untuk menjadi dokter, kita kuliah di fakultas kedokteran, Untuk menjadi Insinyur yang handal juga ada kuliahnya, lalu kenapa untuk menjadi ibu profesioanal kita akan mencetak generasi muda tidak ada sekolahnya? Ini menjadi sangat penting karena dalam mengasuh anak itu kita harus belajar, belajar dan belajar.
                Menurut ia setiap anak memiliki karakter yang berbeda, sehingga dalam penangannya pun kita berneda-beda pula. baik dalam cara belajar, kita memberikan perintah, potensi yang di miliki oleh anak dan bagaimana mengembangkannya?. Itu merupakan tugas kita menjadi seorang bunda yang profesional. 
                Jangan pernah takut kita akan kehilangan gelar  meskipun berada di dalam rumah. Karena meskipun berada di dalam rumah bunda bisa tetap produktif. Banyak hal yang dapat bunda lakukan. Alya dan Ummu Fauzan  hanya salah satunya.diluar sana banyak contoh-contoh lain dari para bunda yang melakukan aktifitasnya di dalam rumah namun tetap produktif bahkan menghasilkan.  




    Author

    Rizky Arya Lestari

    Saya seorang ibu rumah tangga yang memiliki hobi menulis, tentang parenting, manajemen, keuangan keluarga, dan pengembangan diri.